Pasang Iklan

Sabtu, 01 Maret 2014

Suster Yuni Merawat dengan Hati


23 tahun lalu, Suster Yuni lahir di Desa Assisulu, Ambon pada tanggal 19 Desember.

Ayahnya telah meninggalkan Yuni sejak kecil. Maka sebagai anak pertama, Yuni kecil punya tanggung jawab yang besar bersama ibunya.

Yuni kecil tumbuh menjadi gadis yang mencintai alam. Ia suka menyelami laut Ambon dekat desanya yang jernih. Terumbu karang dan ikan-ikan kecil menjadi teman bermainnya yang setia selain adik laki-laki nya yang masih kecil waktu itu.

Beberapa tahun kemudian, ibunya menemukan pasangan hidup lagi. Yuni pun berusaha menerima ayah baru nya, tapi tetap saja. tak ada yang bisa menggantikan ayah nya.

Suatu hari, oma dan opa jauh dari Jakarta membawanya meninggalkan ibu dan adik kecilnya. Ia disekolahkan di sekolah negeri ibu kota.

Yuni yang masih kaget akan budaya kota, berusaha beradaptasi termasuk sistem pendidikannya yang jauh lebih maju dari desanya. Ia tertinggal.
Untuk berhitung pun Yuni tergolong lambat. sehingga oma dan pamannya hampir putus asa mengajarinya. tidak jarang lemparan kotak penghapus mengenai tubuhnya.

Tapi Yuni tahu, ini demi masa depannya. Juga masa depan ibu dan adiknya.

Wajahnya yang unik khas Ambon dengan potongan India, juga pribadinya yang sederhana ternyata membuat teman-temannya bersimpati.

Perjuangannya tidak sia-sia, ketika di jenjang menengah atas, prestasi Yuni melesat jauh. Ia menjadi salah satu murid berprestasi. Bahkan sering mengikuti berbagai macam diskusi dan debat. Pikirannya pun menjadi lebih kritis. wawasannya semakin terbuka.

Namun tinggal dan hidup dengan bukan keluarga kandungnya, tidaklah mudah. Pertengkaran, tangisan. Namun itulah yang membuatnya dewasa untuk bisa menerima keluarga barunya. Belajar mengenai: kesabaran, ketabahan hati.

Hingga ia sadar ini bukan hanya soal masa depannya, ibu ataupun adikknya. Namun juga oma, opa, dan keluarga barunya. Merekalah orang-orang yang membuka matanya akan dunia yang luas. bahwa dunia ini tidak hanya seluas laut Ambon.

Atas desakan oma dan opa, Yuni melanjutkan pendidikan di akademi keperawatan. Yuni mengaku jujur bahwa awalnya ia tidak menyukai bidang kesehatan. Ia lebih menyukai dunia perekonomian. Tapi ia berpikir waktu itu, apa salahnya membahagiakan oma dan opa?

Waktu pun berjalan, ia berhasil lulus dari akademi keperawatan dengan gemilang dan diterima bekerja di rumah sakit swasta di ibu kota.

Karena masih baru, ia ditempatkan di bagian unit gawat darurat. Sungguh menantang. Ia harus sigap, tangkas, dan cepat. Tidak jarang ia berangkat pagi dan pulang malam.
Berangkat pagi, pulang malam. Begitu seterusnya.

Tubuhnya terlihat makin kurus, tapi semangatnya tidak pernah hilang.
Ia semakin sadar, ini bukan soal masa depannya, ibu atau adik, opa oma atau keluarga barunya. bukan hanya mereka. namun juga masa depan pasien. masa depan orang-orang yang berjuang untuk hidup. orang-orang yang sedang berjuang melawan maut.

Ia berujar:
"Entahlah. saya mungkin masih lebih tertarik dengan dunia perekonomian. Namun hati ini bekerja jauh lebih hebat dari rasa ketertarikan saya itu. Hati ini tahu bahwa menjadi perawat adalah salah satu pekerjaan yang mulia.
Saya sungguh senang ketika pasien tersenyum dan mengatakan 'Terimaksih, Sus'
Itu semua membuat saya lupa kalau saya masih harus bekerja lagi. mungkin bahkan saya menganggap menjadi perawat bukanlah pekerjaan. Tapi sebuah pengabdian yang datangnya dari hati."

Itulah Suster Yuni. kakak sepupu yang saya kenal sejak kedatangannya 9 tahun lalu di Jakarta. Sosok Kartini Muda masa kini.

Hingga kini, ia sering tersenyum karena banyak pasien yang memberinya bingkisan kue kecil. sebagai ucapan terimakasih karena telah merawatnya.

Bulan Juli nanti, ia bersama teman-teman perawat nya akan mengadakan cek kesehatan gratis. Kita doakan saja semoga kegiatan mereka berhasil dan bermanfaat.

Suster Yuni, teruslah merawat dengan hati :)



Related Post :

Comments :

0 comments to “Suster Yuni Merawat dengan Hati”

Posting Komentar

:a :b :c :d :e :f :g :h :i :j :k :m :n :p :s :t :):u :v :w :x :y x( :z =))